Kalau ada orang mati, di desa-desa itu biasanya diadakan tahlilan dan do’a bersama. Apakah do’a orang-orang itu bisa sampai kepada orang yang mati?
Jawab;
Para ulama’ sepakat, mendo’akan orang muslim yang telah meninggal itu boleh, baik yang meninggal itu famili atau bukan. Di dalam al-Qur’an dikatakan;
وَالَّذِينَ جاءُ وْا مِنْ بَعْدِ هِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْـفِرْلَنَا وَلاِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَ بِالاِيْمَانِ.
"Dan orang-orang yang datang sesudah mereka itu berkata: Wahai Tuhan kami! Ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman sebelum kami".(al-Hasyr:10)
Di dalam ayat lain dikemukakan;
رَبَّنَا اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابِ.
"Ya Tuhan kami! Berilah ampunan kepadaku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (Hari Kiamat)." (Ibrahim:41)
Do’a-do’a yang dipanjatkan oleh orang yang beriman dan shalih akan bisa sampai dan bermanfaat kepada mayat, sebagaimana sabda Rasulullah saw.
إذا مات الإنسان انقطع عمل إلا من ثلاث
Apabila seseorang telah meninggal maka terputuslah amalnya kecuali karena tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaar, dan anak shalih yang berdo’a kepadanya
Hadis ini menunjukkan do’a seseorang bermanfaat bagi orang yang meninggal dalam keadaan beriman. Namun berdoa yang dimaksudkan di sini bukanlah dengan cara mentahlilkan, meyasinkan dan membacakan al-Quran beramai-ramai untuk si Mati sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang awam (orang-orang jahil) dan para pembuat bid'ah.
Mendoakan orang yang telah meninggal adalah sunnah hukumnya dan dibolehkan apabila mencontohi sunnah Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya atau amalan orang-orang Salafus Shalih. Ketika berdo’a kita wajib husnudhon akan diterima oleh Allah, adapun kenyataannya kita serahkan kepada Allah untuk diterima atau ditolak.
Tetapi apa yang dilakukan oleh sejumlah kaum muslimin yang menetapkan hari-hari tertentu, bulan-bulan tertentu atau karena suatu sebab tertentu lalu mengadakan majelis yasinan atau tahlilan maka itu adalah bid'ah yang diada-adakan. Sedangkan bid’ah itu amalnya tidak diterima berdasarkan Firman Allah
اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلاِسْلاَمَ دِيْنًا.
"Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kamu buat kamu dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kamu, dan telah Aku redai Islam menjadi agamamu". (al-Maidah:3)
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Dan Barangsiapa mencari agama selain islam, maka tidak akan diterima darinya dan di hari akhir ia termasuk orang-orang yang merugi (Ali Imran:85)
Ayat di atas menjelaskab bahwa islam adalah agama yang telah lengkap, sehingga tidak membutuhkan kreasi kreatif. Berbagai kreasi dan kreatifitas dalam beragama dianggap mencari ajaran selain Islam, yang tertolak. Akibatnya di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.
Adapun dasar dari hadis nabi, adalah Sabda Rasulullah
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
"Barang siapa yang melakukan sesuatu amal yang bukan dari perintah kami (Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya) maka amalan itu tertolak".(HR Muslim)
مَنْ اَحْدَثَ فِىْ اَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌَّ.
"Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan (agama) kami ini sedangkan ia bukan (dari kami) maka ia tertolak". (HR Bukhari dan Muslim)
Berdasarkan kepada ayat dan hadis di atas, amalan bid’ah tidak diterima Allah. Karena amalnya sendiri saja ditolak, maka do’a-do’a juga tidak diterima, dan do’a yang dipanjatkan tentunya juga tidak bermanfaat bagi yang sudah meninggal. Karena itulah jika hendak mendo’akan keluarga, atau orang tua yang sudah meninggal hendaklah menjaga tuntunan sunnah Rasulullah saw
Yasinan dan Tahlilan
Adab makan sesuai tuntunan Sunnah Rasulullah saw
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.”(Q.S. Albaqarah : 172)
Ayat diatas menerangkan bahwa Allah menegur atas orang-orang yang beriman agar memakan makanan yang baik dari rezeki yang telah Allah berikan dan jangan pernah kufur atas nikmat Allah (senantiasa bersyukur) jika orang-orang yang beriman tersebut benar-benar menyembah Allah di dalam ketaatan nya.
Sementara Rasulullah saw telah mengajari kita dengan memberikan contoh makan yang baik, dengan beberapa anjuran yaitu :
1. Memulai makan dengan mengucapkan Bismillah.
Berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Apabila salah seorang diantara kalian hendak makan, maka ucapkanlah: ‘Bismilah.’ Dan jika ia lupa untuk mengucapkan Bismillah di awal makan, maka hendaklah ia mengucapkan ‘Bismillahi Awwalahu wa Aakhirahu (dengan menyebut nama Allah di awal dan diakhirnya).’” (HR. Daud Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih Ibnu Majah: 3264)
2. Hendaknya mengakhiri makan dengan pujian kepada Allah.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Barangsiapa telah selesai makan hendaknya dia berdo’a:“Alhamdulillaahilladzi ath’amani hadza wa razaqqaniihi min ghairi haulin minni walaa quwwatin. Niscaya akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Daud, Hadits Hasan)
Inilah lafadznya,
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا وََرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حوْلٍ مِنِّي وَ لاَ قُوَّةٍ
“Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan ini kepadaku dan yang telah memberi rizki kepadaku tanpa daya dan kekuatanku.”
Atau bisa pula dengan doa berikut,
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَنْدًا كثِيراً طَيِّباً مُبَارَكاً فِيهِ غَيْرَ (مَكْفِيٍّ وَ لاَ) مُوَدَّعٍ وَ لاَ مُسْتَغْنَيً عَنْهُ رَبَّناَ
“Segala puji bagi Allah dengan puja-puji yang banyak dan penuh berkah, meski bukanlah puja-puji yang memadai dan mencukupi dan meski tidaklah dibutuhkan oleh Rabb kita.” (HR. Bukhari VI/214 dan Tirmidzi dengan lafalnya V/507)
3. Hendaknya makan dengan menggunakan tiga jari tangan kanan.
Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam makan dengan menggunakan tiga jari.” (HR. Muslim, HR. Daud)
4. Hendaknya menjilati jari jemarinya sebelum dicuci tangannya.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Apabila salah seorang diantara kalian telah selesai makan maka janganlah ia mengusap tangannya hingga ia menjilatinya atau minta dijilati (oleh Isterinya, anaknya).” (HR. Bukhari Muslim)
5. Apabila ada sesuatu dari makanan kita terjatuh, maka hendaknya dibersihkan bagian yang kotornya kemudian memakannya.
Berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Apabila ada sesuap makanan dari salah seorang diantara kalian terjatuh, maka hendaklah dia membersihkan bagiannya yang kotor, kemudian memakannya dan jangan meninggalkannya untuk syaitan.” (HR. Muslim, Abu Daud)
6. Hendaknya tidak meniup pada makanan yang masih panas dan tidak memakannya hingga menjadi lebih dingin, hal ini berlaku pula pada minuman. Apabila hendak bernafas maka lakukanlah di luar gelas, dan ketika minum hendaknya menjadikan tiga kali tegukan.
Sebagaimana hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang untuk menghirup udara di dalam gelas (ketika minum) dan meniup di dalamnya.” (HR. At Tirmidzi)
7. Hendaknya menghindarkan diri dari kenyang yang melampaui batas.
Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Tidak ada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya, cukuplah baginya memakan beberapa suapan sekedar dapat menegakkan tulang punggungnya (memberikan tenaga), maka jika tidak mau, maka ia dapat memenuhi perutnya dengan sepertiga makanan, sepertiga minuman dan sepertiga lagi untuk bernafasnya.” (HR. Ahad, Ibnu Majah)
8. Makan memulai dengan yang letaknya terdekat kecuali bila macamnya berbeda maka boleh mengambil yang jauh.
Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Wahai anak muda, sebutkanlah Nama Allah (Bismillah), makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari apa-apa yang dekat denganmu.” (HR. Bukhari Muslim)
Marilah wahai orang-orang yang beriman dan yang senantiasa ingin bersyukur untuk mengikuti cara yang telah rasulullah contohkan diatas. Diatas adalah tuntunan / sunnah Rasululloh SAW, monggo diterapkan dalam kehidupan, semoga bermanfaat bagi saya khususnya dan saudara/i semua.
PERASAANKU,..
Aku tak selalu baik dan juga tak selalu benar, Sekali waktu aku begitu baik dan juga kadang sangat bodo. Aku hanya manusia biasa seperti yang lain, punya asa yang kadang-kadang tidak bisa diterima akal. Aku bersyukur bisa mengalami ini semua, perjalanan jiwa menemukan jati diri, aku senang bisa punya rasa syukur atas nikmat yng Tuhan berikan kepadaku. Aku sadari semakin aku bersyukur semakin banyak kebaikan yang kutemukan. Aku temukan, tidak semua mesti difikirkan secara logika, aku hanya bersyukur dan bermimpi setinggi langit… tanpa rasa takut, khawatir atau cemas. Kulakukan segala sesuatu dengan tulus menggunakan persaanku, kujalani cobaan dengan sabar dengan perasaanku, ku bersyukur yang semua terjadi membuat aku lebih kuat dan lebih dewasa.
CINTA
Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit,bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus,tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur,di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.
MAKNA dan PERAN AQIDAH dalam ISLAM
Aqidah secara etimologi dari asal kata ’aqada – ya’qidu yang bermakna mengikat sesuatu, jika seseorang mengatakan (aku ber’itiqad begini) artinya: saya mengikat hati dan dhamir terhadap hal tersebut. Dengan demikian kata aqidah secara terminologi bermakna : sesuatu yang diyakini sesorang, diimaninya dan dibenarkan dengan hatinya baik hak ataupun batil.
Sedangkan makna aqidah ditinjau dari pengertian syariat Islam adalah beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, para malaikat-Nya, kitab-kitab dan rasul-rasul-Nya beriman kepada hari akhir dan taqdir (ketentuan) Allah yang baik maupun buruk.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kamu kepada Allah, Rasul-Nya dan kitab yang diturunkan kepda Rasul-Nya dan kitab yang diturunkan sebelum itu, dan barangsiapa yang kufur kepada Allah, dan malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir benar-benar ia telah sesat dengan kesetan yang jauh.” (QS. an-Nisa’ : 136).
Adapun mengenai takdir, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, artinya, “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ketentuan” (QS. al-Qamar: 49).“Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS. al-Furqon: 2).
Apa yang disebutkan di atas dari pengertian aqidah secara syar’i merupakan pokok-pokok aqidah Islam yang dinamakan dengan Arkanul Iman (rukun-rukun iman) atau Al-Ushulusittah (dasar-dasar keimanan yang enam). Dari keenam pokok keimanan inilah akan bercabang semua masalah aqidah lainnya yang wajib diimani oleh setiap muslim baik berkaitan dengan hak-hak Allah Subhanahu Wa Ta'ala, urusan akhirat maupun masalah-masalah ghaib lainnya.
Kedudukan dan Peran Aqidah dalam Islam
1. Aqidah merupakan misi pertama yang dibawa para rasul Allah.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, artinya, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”. (QS. an-Nahl: 36).
2. Manusia diciptakan dengan tujuan beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, artinya, “Dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku”. (QS. adz-Dzariyat: 56). Dan bahwasanya amal ibadah seseorang tidak diterima kecuali jika bersumber dari aqidah yang benar.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, artinya, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir lalu mengerjakan amal kebajikan maka bagi mereka pahala di sisi Tuhan mereka.”(QS. al-Baqarah: 62). “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan (pada nabi) sebelum kamu jika kamu berbuat ke syirikan niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. az-Zumar: 65).
Dan Rasulullah Shallallohu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, “Barangsiapa mengada-ada dalam urusan agama ini sesuatu yang baru yang bukan darinya, maka hal itu tertolak.”(HR. al-Bukhari).
3. Aqidah yang benar dibebankan kepada setiap mukallaf.
Nabi Shallallohu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang sebenarnya selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah.” (Muttafaq ‘alaih).
4. Berpegang kepada aqidah yang benar merupakan kewajiban manusia seumur hidup.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Tuhan kami ialah Allah kemudian mereka beristiqomah (teguh dalam pendirian mereka) maka para malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata) : “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang dijanjikan Allah kepadamu.”(QS. Fushilat: 30).
Dan Nabi Shallallohu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, “Katakanlah: Aku beriman kepada Allah kemudian beristiqomahlah (berlaku luruslah) kamu.”(HR. Muslim).
5. Aqidah merupakan akhir kewajiban seseorang sebelum meninggalkan dunia yang fana ini.
Nabi Shallallohu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang akhir ucapannya “Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah niscaya dia akan masuk surga”. (HR. al-Hakim).
6. Aqidah yang benar telah mampu menciptakan generasi terbaik dalam sejarah umat manusia, yaitu generasi sahabat dan dua generasi sesudah mereka.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, artinya, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, kamu menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali-Imran: 110).
Dan Rasulullah Shallallohu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, “Sebaik-baiknya manusia adalah generasiku (yaitu para sahabat) kemudian yang berikutnya (yaitu generasi tabi’in) kemudian berikutnya (yaitu generasi tabi’ut-tabi’in).”(HR. al-Bukhari dan Muslim).
7. Kebutuhan manusia akan aqidah yang benar melebihi segala kebutuhan lainnya karena ia merupakan sumber kehidupan, ketenangan dan kenikmatan hati seseorang. Semakin sempurna pengenalan serta pengetahuan seorang hamba terhadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala maka semakin sempurna pula dalam mengagungkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan mengikuti syari’atNya.
Nabi Shallallohu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah dan paling mengetahui-Nya diantara kamu sekalian adalah aku.” (HR. al-Bukhari).
Sumber Aqidah Islam
Aqidah adalah sesuatu yang harus berdasarkan wahyu, oleh sebab itu sumber aqidah Islam adalah al-Qur’an Al-karim dan sunnah Nabi Shallallohu 'Alaihi Wa Sallam yang shahih sesuai dengan apa yang difahami oleh para sahabat Nabi Shallallohu 'Alaihi Wa Sallam, karena mereka telah diridhai oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, artinya, “Adapun jika datang kepada kamu sekalian petunjuk dari-Ku, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha: 123).
Dalam menafsirkan ayat tersebut di atas Abdullah bin Abbas Radhiyallohu 'Anhuma berkata, “Allah menjamin siapa saja yang membaca al-Qur’an dan mengamalkan kandungannya bahwa dia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat kelak.” (Dikeluarkan oleh ibnu Abi Syaihah, al-Hakim dan dishahihkannya).
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman tentang ucapan-ucapan Rasulullah Shallallohu 'Alaihi Wa Sallam, “Dan tidaklah dia (Muhammad) berkata menurut kemauan hawa nafsunya. Perkataannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (QS. an-Najm: 3-4).
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, artinya, “Dialah yang mengutus kepada kaum yang ummi seorang rasul yang diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab (Al-Qur’an) dan hikmah (As-Sunnah) dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. al-Jumu’ah: 2).
Adapun pengukuhan Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan kebenaran para sahabat nabi Shallallohu 'Alaihi Wa Sallam di dalam aqidah, ibadah dan akhlaq/muamalah mereka serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dalam banyak ayat-ayat al-Qur’an, diantaranya, artinya, “Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah: 100).
Dan ketika Rasulullah Shallallohu 'Alaihi Wa Sallam ditanya tentang kelompok yang selamat beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang berada di atas sesuatu seperti yang aku dan para sahabatku berada di atasnya pada hari ini”. (HR. Ahmad).
Kesimpulan:
Dari uraian di atas berserta dalil-dalilnya yang bersumber dari al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallohu 'Alaihi Wa Sallam, kita mengetahui betapa pentingnya Aqidah yang benar dalam membentuk manusia baik secara individu maupun sebagai komunitas. Wallahu Ta’ala a’alam.
Semuanya Ada Pertanggung Jawabannya
Ibnu Umar Rad. dari Ibnu Mas’ud Rad. dari Nabi Muhammad S.A.W bahwa beliau bersabda: “Tidak akan tergelincir kaki seorang anak Adam pada hari kiamat hingga ia ditanya lima hal: tentang umur untuk apa ia habiskan, tentang masa muda kemana ia gunakan, tentang harta darimana ia dapatkan dan kemana ia infakkan, dan apa yang telah ia kerjakan terhadap (ilmu) apa yang telah ia ketahui.” (Shahih Sunan At-Tirmidzi no.2416; hadist shahih).
KEUTAMAAN BERJENGGOT
Abu Hurairah r.a berkata bahwa Rasulullah bersabda : “Pendekkanlah kumis dan biarkanlah jenggot. Selisihilah orang-orang majusi (karena mereka memanjangkan kumis dan memendekkan jenggot). ”
Hadist Arba'in
Hadist 1.
Umar bin Khattab r.a berkata, Aku mendengar Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya tiap amal perbuatan tergantung pada niatnya dan sesungguhnya bagi tiap-tiap orang apa yang ia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya menuju (keridhaan) Allah dan RasulNya, maka hijrahnya kearah (keridhaan) Allah dan RasulNya. Barang siapa yang hijrahnya itu karena dunia (harta dan kemegahan dunia) atau karena wanita, maka ia akan mendapatkan apa yang diinginkannya.”
Hadist 2.
Dari Umar r.a berkata, pada suatu hari kemi duduk bersama Rasulullah S.A.W tiba-tiba tampaklah seorang laki-laki kepada kami yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tak terlihat bekas perjalanan sedikitpun padanya, dan diantara kami tidak ada yang mengenalinya. Lalu ia duduk dihadapan Rasul S.A.W kemudian dia merapatkan lututnya pada lutut Nabidan meletakkan kedua tapak tangannya diatas pahanya sendiri, seraya bertanya: “Wahai Muhammad, terangkan padaku tentang Islam!”, maka Rasulullah S.A.W menjawab : “Islam yaitu hendaklah kamu bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, engkau mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan mengerjakan hajike Baitullah jika engkau mampu melakukannya.” Orang itu berkata: “enkau benar!”. Maka kami pun heran, dia bertanya kenapa ia pula yang membenarkannya. Maka orang itu bertanya lagi: “Terangkanlah padaku tentang Iman!”. Rasulullah S.A.W menjawab: “Hendaklah enkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, kepada utusan-utusanNya (Rasul), kepada hari kiamat, dan kepada takdir yang baik dan yang buruk.” Berkatalah orang tadi: “engkau benar!” Dia lalu bertanya lagi: “Beritahukan padaku tentang Ihsan!” Nabi S.A.W menjawab: “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, dan jika engkau tidak bias melihatnya yakinlah bahwa Ia melihatmu.” Orang itu bertanya lagi : “Jelaskan padaku tentang Kiamat!” Rasul S.A.W menjawab: “orang yang ditanya tentang itu tidak lebih tahu dari pada yang bertanya.” Selanjutnya orang itu bertanya lagi: “Kabarkan kepadaku akan tanda-tandanya!”Nabi S.A.W menjwab: “Yaitu seorang hamba telah melahirkan majikannya, dan engkau melihat orang-orang tak beralas kaki, pakainnya compang camping, miskin, dan penggembala kambing, mereka berlomba-lomba meninggikan bangunan.” Kemudian orang tersebut beranjak pergi. Sedangkan aku terdiam cukup lama. Kemudian Nabi S.A.W bertanya kepadaku: “Wahai Umar, tahukah kamu siapa dia?” Aku menjawab: “Allah dan RasulNya lebih mengetahui” Nabi S.A.W bersabda: “Dia adalah Jibril, dating kepadamu untuk mengajarkan agamamu.”
Hadist 3.
Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bi Al-Khattab r.a berkata, Aku mendengar Rasulullah S.A.W bersabda: “Islam didirikan atas lima perkara (1) bersaksi bahwa tiada tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah (2) Mendirikan Shalat (3) Mengeluarkan zakat (4) Puasa pada bulan Ramadhan (5) Mengerjakan Haji ke Baitullah.”
Hadist 4.
Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud r.a berkata : bahwa Rasulullah S.A.W bersabda : “Sesungguhnya tiap orang diantara kamu dikumpulkan pembentukannya (kejadiannya) didalam rahinm ibunya dalam 40 hari berupa nuthfah (air yang kental) kemudian menjadi segumpal darah selam itu juga (40 hari) kemudian menjadi gumpalan seperti sekerat daging selama itu juga, kemudian diutuslah kepadanya Malaikat, maka ia meniupkan ruh padanya dan diperintahkan pada malaikat (untuk menulis) 4 perkara : 1. ditentukan rezkinya, 2. ajalnya (umurnya), 3. amalnya (pekerjaannya), 5. ia celaka atau bahagia (takdirnya). Maka demi Allah yang tiada tuhan selain daripadaNya, sesungguhnya seorang diantara kamu mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga itu kecuali sehasta saja, namun ia didahului oleh ketentuan (takdir Allah), lalu ia melakukan pekerjaan ahli neraka maka ia pun masuk neraka. Dan sesungguhnya salah seorang diantara kalian melakukan pekerjaan ahli neraka sehingga tidak ada jarak antaranya dengan neraka melainkan hanya sehasta saja dan ia didahului ketentuan Allah (takdir) maka ia mengerjakan perbuatan ahli surga dan ia pun masuk surga.
Hadist 5.
Ummul Mu’minin ibunya ‘Abdullah, ‘Aisyah r.a berkata bahwa Rasulullah S.A.W bersabda : “Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu yang baru dalam urusan agama ini, yang tidak diperintahkan, niscaya ia tertolak.”
Hadist 6.
Abu Abdullah An-Nu’man bin Basyir r.a berkata : Aku telah mendengar Rasulullah S.A.W bersabda : “Sesungguhnya sesuatu yang halal itu jelas, dan yang haram itu jelas, dan diantara keduanya ada perkara yang samar-samar (syubhat), kebanyakan manusia tidak mengetahui. Maka barang siapa yang menjaga dirinya dari persoalan (perkara) yang samar itu berarti ia telah membersihkan agama dan kehormatannya, dan barang siapa yang jatuh kedalam perkara yang syubhat berarti ia telah jatuh kepada perkara yang haram seperti pengembala yang membiarkan ternaknya disekitar tanah larangan (tanah orang lain), lambat laun ia akan masuk kedalamnya. Ingatlah bahwa tiap2 raja ada larangannya. Ingatlah bahwa larangan Allah adalah apa2 yang diharamkanNya. Ingatlah bahwa didalam jasad itu ada sekerat daging, jika ia baik, baiklah jasadnya, namun jika ia rusak maka rusaklah keseluruhan jasad itu, ingat ia adalah Qalb (hati/jantung).
Hadist 7.
Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Daari r.a berkata : sesungguhnya Rasulullah S.A.W bersabda : “ ‘Agama itu ialah nasehat’, lalu kami bertanya : ‘Untuk siapa ya Rasulullah?’, Sabdanya : ‘Bagi Allah, KitabNya, RasulNya, Imam-imam kaum muslimin dan bagi muslim umumnya’ “
Hadist 8.
Ibnu Umar r.a berkata : Sesungguhnya Rasulullah S.A.W telah bersabda : “Aku diutus untuk mengurangi manusia sehingga mereka bersaksi bahwa tiada tuhan melainkan Allah, dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, dan mendirikan shalat , dan mengeluarkan zakat. Apabila mereka mengerjakan yang demikian, terpeliharalah dari padaku darah dan harta mereka, kecuali (mereka melakukan kesalahan2 yang boleh dihukum) menurut hukum Islam dan perhitungan amal mereka terserah pada Allah Ta’ala”.
Hadist 9.
Dari Abu Hurairah r.a, Abdurrahman bin Sakhr r.a berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah S.A.W bersabda : ” Apa-apa yang telah aku larang untukmu, maka jauhilah dan apa-apa yang telah aku perintahkan kepadamu maka kerjakanlah sebaiknya (semampumu). Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dibinasakan disebabkan mereka banyak bertanya dan menentang Nabi-Nabi mereka (tidak taat dan patuh).
Hadist 10.
Abu Hurairah r.a berkata: “Rasulullah S.A.W telah bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Thayyib (terlepas dari noda dan kekurangan) tidak menerima sesuatu kecuali yang Thayyib, dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin (sebagaimana Allah perintahkan kepada para utusanNya/Rasul), maka Allah berfirman : “Hai Rasul-Rasul! Makanlah dari makanan yang thayyib dan kerjakanlah amal yang shaleh (Q.S. Al-Mukminun:51) dan Allah S.W.T berfirman : ” Hai orang-orang yang beriman! Makanlah dari apa yang thayyib yang telah Kami rezkikan kepadamu (Q.S. Al-Baqarah:172) Kemudian beliau menceritakan (mengisahkan) seorang lelaki yang telah menempuh perjalanan jauh berambut kusut penuh dengan debu. Dia menadahkan kedua tangannya ke langit dan berkata : “Ya Rabb.. Ya Rabb.., sedangkan makanannya makanan haram, minumannya minuman haram, pakaiannya haram, dan dikenyangkan dengan barang yang haram, maka bagaimana ia akan diterima doanya? “.
DO'A HARI INI
Ampunilah seluruh dosa kami
Tutupi dan hapuskan segala aib dan kesalahan kami
Dan berikan kepada kami kesanggupan untuk mengubah dan memperbaiki diri menjadi lebih baik
Kurniakanlah kepada kami akhlak yang mulia
…Peribadi yang indah dan terpelihara
Ya Allah,
Kurniakanlah kepada kami ketenangan hati,
kedamaian hati,
kebeningan dan kebersihan hati,
ketenteraman jiwa
kesegaran berfikir dan ingatan yang tajam
Usir dan buanglah segala kegelisihan, kekhawatiran, ketakutan, kecemasan dan kesedihan dalam hati dan jiwa kami.
Jadikan hati kami tenteram, tenang, dan damai dengan mengingat-Mu
Berharap dan bergantung hanya kepada-Mu
Wahai Pemilik dan Penguasa Segala Hati,
Kurniakanlah kepada kami hati yang bening dan bersih
Hati yang suci, tulus dan ikhlas.